Di era globalisasi ini, Dunia pendidikan mendapat perhatian utama dalam kehidupan masyarakatperkotaan. Kuantitas dan kwalitas sekolah terus berkembang seiring dengan permintaan pasar yang terusmenuntut prestige dari sekolah-sekolah masa kini, sekolah-sekolah papan atas dengan brand name yang diakui telah menjadi daya tarik orang tua siswa untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah favorit tersebut, tidak menjadi masalah akan berapa besar biaya yang harus di keluarkan untuk menjadikan buah hatinyamendapatkan sekolah yang mempunyai reputasi dan kredibilitas yang tinggi. Itulah potret dunia pendidikan anak-anak kita dilingkungan kita berada.
Bagaimana dengan anak-anak yang tidak beruntung di sekitar kita?
Pernahkah anda bayangkan bahwa jumlah anak putus sekolah di negeri tercinta ini ternyata sudah mencapai belasan juta?
Menurut data resmi yang dihimpun dari 33 kantor Komnas Perlindungan Anak di 33 provinsi, jumlah anak putus sekolah pada tahun 2007 sudah mencapai 11.7 juta jiwa, jumlah itu pasti sudah bertambah lagi tahun ini mengingat keadaan ekonomi nasional yang kian memburuk.
MenurutSekjen Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, kasus putus sekolah yang paling menonjol tahun ini terjadi di tingkat SMP 48%, tingkat SD 23% dan tingkat SMA 29 %. Bila digabungkan ke lompok usia pubertas yaitu anak SMP dan SMA, jumlahnya mencapai 77%. Dengan kata lain, jumlah anak usia pubertas yangputus sekolah tahun ini tak kurang dari 8 juta orang.
Bayangkan, 8 juta remaja yang masih labil dan mencari identitas diri terpaksa putus sekolah, terpaksa meninggalkan teman-temannya yang masih terus bersekolah, dan terpaksa menelan kenyataan pahit sebagai manusia yang gagal dan tereliminasi. Andaikan satu dari mereka itu adalah anak anda, bagaimanakah perasaan anda melihat buah hati menjadi anak remaja yang termarjinalkan dari lingkungannya.
Orang tua mereka bukan hanya tidak mampu membayar SPP, namun seringkali merekapun tidak mampu untuk membeli baju seragam anaknya, alat-alat keperluan sekolah lainnya, ongkos angkot kesekolah, bahkan ada yang tidak mampu untuk memberikan sarapan pagi bagi anaknya.
155.965 anak berkeliaran dijalanan, sekitar 2.1 juta menjadi pekerja dibawah umur. Mereka adalah sasaran empuk perdagangan anak. Apakah saya, anda dan kita semua akan terus bersikap masa bodoh? Mereka adalah tunas-tunas harapan bangsa.
Mencintai anak yatim dan dhuafa dengan membantu mereka memberikan secerah harapan, merupakan wujud pelaksanaan peran sosial dan agama. Wujud dari pelaksanannya dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan ikut serta memberikan santunan berupa beasiswa sebagai jaminan masa depan mereka yang lebih cerah dan memiliki harapan yang lebih baik dan mulia.
Program PPMD-AD KOAPGI ini setidaknya dapat memberikan sebuah harapan bagi anak yatim dan dhuafa dalam berupaya menjadikan merekamanusia yang berkualitas untuk mencapai kehidupan yang lebih baik lagi. (a.w. + berbagai sumber)